satuswara.com/, PALANGKA RAYA – Fenomena antrean panjang Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melanda Kota Palangka Raya belakangan ini tidak hanya memukul sektor ekonomi, tetapi juga memicu kekhawatiran kolektif di tengah masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Palangka Raya, Itsla Yunisva Aviva, menekankan pentingnya menjaga rasionalitas konsumsi dan solidaritas sosial guna menghindari kepanikan publik yang lebih luas.
Dalam kajian perilaku ekonomi, Itsla menyoroti munculnya gejala panic buying, di mana rasa takut akan kelangkaan mendorong individu membeli BBM melebihi kebutuhan normal demi mencari rasa aman. Namun, tindakan ini justru menciptakan efek domino yang memperburuk keadaan: antrean semakin mengular dan akses energi bagi masyarakat lain menjadi terganggu.
”Kondisi ini dikenal sebagai self-fulfilling prophecy, sebuah situasi di mana asumsi keliru atau kekhawatiran berlebih terhadap kelangkaan justru mendorong perilaku yang membuat kelangkaan tersebut benar-benar menjadi kenyataan,” jelasnya.
Dari perspektif Ekonomi Islam, Itsla memaparkan bahwa aktivitas konsumsi bukan sekadar pemenuhan nafsu material, melainkan tanggung jawab moral yang menjunjung tinggi kemaslahatan bersama. Islam mengajarkan prinsip wasathiyah (keseimbangan) dan melarang perilaku israf atau berlebih-lebihan.
Berikut adalah poin-poin utama dalam menjaga stabilitas distribusi BBM melalui etika konsumsi:
- Pengendalian Diri: Menahan diri dari konsumsi berlebihan sebagai wujud kepedulian sosial terhadap hak orang lain atas kebutuhan publik.
- Menolak Distorsi Pasar: Ekonomi Islam menentang keras praktik penimbunan (ihtikar) atau eksploitasi di tengah situasi yang tidak menentu.
- Konsumsi Proporsional: Masyarakat diimbau membeli BBM sesuai kebutuhan nyata untuk menjaga ketenangan sosial dan kemaslahatan publik (maslahah ‘ammah).
Lebih lanjut, Itsla juga mendorong pemerintah dan pemangku kebijakan untuk terus memperkuat pengawasan serta transparansi informasi distribusi. Menurutnya, informasi yang akurat dan terpercaya adalah instrumen utama untuk meredam kecenderungan panic buying di tengah masyarakat.
”Ketahanan ekonomi kita tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya, tetapi juga oleh kedewasaan sikap dan etika konsumsi kita,” pungkas Itsla. Ia berharap masyarakat dapat menghadapi situasi ini dengan mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan keadaban publik guna menciptakan stabilitas ekonomi di Kalimantan Tengah. (**)
Editor: Usup Kurniawan






